Altruistic Love

Posted: September 20, 2012 in Uncategorized
Tags:

“Altruistic Love”

Kudapatkan istilah itu dari seorang psikolog dalam sebuah program yang ditayangkan oleh salah satu stasiun TV.

“Nia”, sejak tiga tahun lalu divonis sebagai penderita kanker, memutuskan untuk berpisah dengan suaminya agar sang suami mencari perempuan lain yang sempurna.

*karena Nia sangat mencintai Indra*

“Indra”, sang suami menolak untuk menceraikannya meskipun Nia tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan biologis suaminya.

*karena Indra sangat mencintai Nia*

“Altruistic Love”
“Cinta yang tanpa pamrih”

Disaat banyak perceraian terjadi karena tak ada lagi cinta, kisah ini memang luar biasa.

People who love altruistically put the needs of their partners above their own. Do you love this way?

Kangen Jogja

Posted: September 12, 2012 in Uncategorized

Image

Akhir-akhir ini mendadak pinter masak — karena terpaksa — sebenernya sih nggak pinter2 amat, tapi jadi mulai menaruh perhatian pada masakan. Asisten RT yang sekarang nggak bisa masak. Ngobrol-ngobrol masakan, jadi kangen Jogja. Menyelesaikan studi dan bahan sempat bekerja di Jogja membuatku merasa dekat dengan Jogja. Ditambah lagi berjodoh dengan laki-laki Jogja. Dan terjadilah kesepakatan bahwa kami akan menghabiskan masa pensiun kami di Jogja.

Jogja —

Kalau lagi di Jogja biasanya sarapan pakai nasi gudeg. Gudeg memang makanan khas Jogja, nggak heran kalau sebagian besar wisatawan yang datang ke kota ini akan mencantumkan makanan ini dalam list kulinernya. Apalagi cita rasanya yang maknyussss, tentu saja bagi mereka yang bisa menerima rasa manis di lidahnya. Beberapa teman asli Sumatera atau Jawa Timur ternyata sama sekali tidak menaruh rasa suka pada makanan enak ini, karena lidah mereka tidak familiar dengan rasa manisnya. Bahkan mereka yang berasal dari daerah Solo — yang notabene jenis makanannya hampir sama — pun kurang menyukai Gudeg Jogja, itulah kenapa ada juga Gudeg Solo yang rasanya tidak terlalu manis. Tapi buatku gudeg apa aja tetap enak.. 🙂
Karena selama hampir 6 tahun menyelesaikan studi di UGM, jadinya hafal seluk beluk per-warung makan-an di seputaran kampus UGM. Khusus menu gudeg, suka sekali di Gudeg Bu Amat atau Yu Djum di pinggir selokan Mataram, utara Balairung. Di dekat situ juga ada tempat makan favorit — Ayam bakar Pak To — dengan sambal pencitnya dan daun ketela pohungnya dan tentu saja es tehnya.

Saat malam menjelang, akan ada banyak lagi pilihan tempat makan di Jogja, ada nasi Goreng Bu Minah di Pogung Dalangan. Dulu sering pesan nasi goreng lewat dak lantai atas kamar kos, minta dianter ke kamar nasi gorengnya ( kalau inget itu ngerasa bangga banget jadi anak kuliahan tapi makannya udah pake delivery order 😀 ) . Suasana malam di Jogja memang begitu membekas di hati, secara dulu suka pakai alasan “temenin makan” ke teman (yang sekarang jadi mantan pacar) yah padahal aslinya cuma pingin jalan-jalan keliling jogja aja , tapi “makan” tetep acara utamanya. Sebelah barat Graha Sabha Pramana merupakan salah satu lokasi favorit makan malam, ada Special Sambel (SS), Sego Penyetan, Nasi Goreng Banyuwangi, dan masih banyak lagi.. Jadi pingin hidup di Jogja..

Eniwei,,, kenapa prolog sama isi post ini agak kurang nyangkut ya.. Hehe.. but it’s ok, itung-itung buat membangkitkan hasrat untuk menulis lagi.

 

 

Coklat..

Posted: June 17, 2011 in Diary, Life

Aih.. kenapa akhir-akhir ini aku menjadi suka makan coklat ya.. Suka diam-diam sendirian makan coklat sambil nonton tv, malam2 waktu Kai udah bobo, secara husband lagi ga ada di rumah..

Hari ini ada teman kantor ultah, bawanya kue tart bertabur coklat bulet, trus bagi2 coklat juga.. Today is chocolate day pokoknya.. Tapi kok jadi eneg gini sama coklat yah..

Memang seharusnya hidup itu sewajarnya saja, ga perlu berlebihan, atau kita akan tiba-tiba muak dengan hidup kita sendiri.

Banyak hal yang perlu dilakukan dalam hidup ini, tak perlu berlebihan memikirkan satu hal, atau hal2 lain akan terbengkalai karenanya.

Banyak hal yang masih bisa dilakukan untuk mengisi waktu, tidak perlu buang2 waktu dengan dosa menggunjingkan orang dan menjadi sok wise, lebih baik instropeksi diri sendiri.. (yahhhh…curcol deh.. OOT !!!)

Banyak makanan yang bisa dimakan, tidak perlu pusing2 mencari coklat setiap mulut meminta makanan..

i come back..

Posted: June 15, 2011 in Life

Hai hai.. lama sekali ga menjamahmu ya blog ku sayang..

Sejak pindah dari ibukota, mengikuti domisili husband di Surabaya, jadi terbengkalai deh aktivitas menulis a.k.a curhat di blog. Ketika bulan lalu tiba-tiba aja dapet order menulis lagi  dari istri seorang teman waktu kecil di kampung, maka bangkitlah kembali keinginan curcol di blog tersayang inih (setelah sekian lama membekukan otak).

Terakhir nulis di sini, waktu itu baru aja menikah, masih jauh-jauhan ma husband, serasa masih single, jadi masih suka cari2 kesibukan.. Sekarang udah ada Kai (6 bln) yang lucu dan otomatis menyita semua perhatian dan waktuku. Menjadi ibu adalah hal yang sangat membahagiakan, terlepas dari semua kerepotan dan adaptasi yang memang pada awalnya bikin stres jiwa raga.

Damai banget rasanya saat pagi-pagi Kai membangunkanku, menepuk2 wajahku, sambil ngoceh-ngoceh “Ayo bangun bu..” (anggep aja ngomong gitu, hehe), trus membalas tersenyum lebar waktu aku membuka mata dan tersenyum padanya. Aiiihhh.. moment pagi hari selalu membuatku malas berangkat kerja :-))

Pulang kerja aku disambut dengan binar-binar ceria matanya, membuatku merasa bersalah meninggalkannya seharian. Kai selalu tahu bagaimana membuatku tersenyum dan tertawa, seringkali dia juga ikut menangis kalau aku lagi sedih. Kai satu-satunya kawan saat malam menjelang, apalagi saat-saat seperti ini, husband jauh dari rumah..

Ah nak, cepatlah besar, biar ibu ceritakan tentang dunia..

"Kai Samba"

ps : husband, tidakkah kau rindu pada jagoan kita (dan tentu saja juga pada diriku)?? :-))

Siang-Siang Ga Ada Kerjaan

Posted: November 17, 2009 in Diary

Siang yang terasa dingin dan jarang sekali Jakarta berbaik hati seperti ini. Meski sebentar lagi gelayut mendung tebal itu akan meluap-luapkan air dari langit dan membawa hadiah banjir, salah satu yang membuatku tetap tidak menyukai Jakarta.

Kenapa aku tiba-tiba kangen menulis, menulis yang benar-benar dengan hati dan pikiran. Aku bahkan tidak tahu sejak kapan punya bakat menulis, aku juga tidak pernah punya prestasi menulis. Yah, mungkin karena terpaksa saja, tiba-tiba pernah sangat beruntung dipekerjakan sebuah media untuk menulis berita, walau mungkin sebenarnya tidak ada bakat untuk menjadi seorang jurnalis. Benar saja, baru juga satu tahun aku sudah beralih profesi menjadi pelayan masyarakat. Tapi sungguh, aura pekerjaan itu masih kental kurasakan, aku masih berhubungan baik dengan rekan-rekan kerja di lapangan, dan kadang-kadang ketika merasa bosan rasanya pengen kembali saja ke dunia itu.
Dunia yang menyuarakan kebebasan dan seakan-akan sah-sah saja memprotes siapa saja. Menjadi pelayan?? Tidak bisa sesuka hati seperti itu. Hufh!!!

Bukan menyesali diri, semua ada porsinya masing-masing, hanya sedikit berkeluh ketika sedang merasa stagnan seperti ini. Bukan pula tidak bersyukur, apa yang ada sudah lebih dari cukup untuk berucap syukur, hanya sedikit  berefleksi bahwa semua ada hikmahnya (*akhir-akhir ini aku sering mengucap kata-kata terakhir tadi*).

Ketemu Jodoh

Posted: November 16, 2009 in Life

Sebulan yang lalu, Bapak menyerahkanku, anak perempuan kesayangan, untuknya, dengan tebusan seperangkat alat sholat dan uang sekian juta rupiah. Aku telah resmi menjadi tanggung jawabnya.

Enam tahun lebih mengenalnya dengan segala plus minusnya, akhirnya dia juga yang menjadi suamiku. Entah aku yang beruntung atau dia yang lebih beruntung (*kata-kata yang sensitif*), dengan hitam putih perjalanan kami, takdir juga yang mengantar kami memasuki pintu takdir kedua, “jodoh”.

Dengan muka yang banyak orang bilang mirip, setipe, “kayak sodaraan”, dan komentar-komentar sejenisnya, dulu aku jarang berpikir jauh bahwa dia yang akan menjadi suamiku kelak (*berbeda dengan dia, katanya sih sejak awal dia yakin aku yang akan jadi istrinya, hehe. Atau itu cuma rayuan dia aja ya??*). Meski begitu, aku begitu nyaman menghadapi, menertawakan dan menangisi kekonyolan-kekonyolannya pada masa-masa itu. Aku sebut itu kekonyolan, mungkin dia akan berkomentar “aku dulu juga sering bosan dengan sok dewasamu itu”. Hahaha… Sekarang, dia yang menjadi sok dewasa, tapi aku menyukainya..

Tiga tahun lalu, sejak dia mengejar nasibnya, mulai berjauhan denganku, dan aku juga berkutat dengan kegembiraanku mengejar mimpi, aku sedikit mengendorkan harapanku padanya. Aku tahu akan banyak yang dia temui, akan banyak pula yang hal baru yang aku lihat. Dia sempat teralihkan dari perhatianku, dan aku tahu aku pun sempat terlempar dari gegap gempita dunianya. Tapi dia tidak pernah hilang dari hatiku (*waduh, menjadi sok puitis romantis beginininini..*)

Entah apa saja masa lalu itu, manis pahit.. Dan entah bagaimana masa depan, aku tidak ingin menebak-nebak. Biar hari ini tetap hari ini, dan esok tetap menjadi misteri.

Lelakiku, maafkan aku belum bisa menemani setiap malammu.. Mungkin lambat laun mimpi-mimpiku akan ikhlas kulepas dan akan tercipta mimpi-mimpi baruku di rumahmu.

Sepertinya aku belum siap mati..

Posted: September 16, 2009 in Life

Saat kematian menjemput roh dari raga manusia, maka semua amalnya akan putus kecuali tiga perkara: amal jariyah, anak yang sholeh, dan ilmu yang bermanfaat.
Kapan aku mati?? ga ada yang tau, mungkin sebentar lagi, mungkin beberapa tahun lagi, atau mungkin ketika sudah tua.. Jadi musti dari sekarang nabung tiga perkara itu.
1. Harus lebih banyak beramal jariyah. Setelah lepas dari bangku kuliah, aku jadi jarang ikut2 kegiatan sosial. Sepertinya aktifitas kerja menguras konsentrasi, mungkin karena jam kerja yang mendominasi hari yang bikin jadi ga mikirin kegiatan lain. Beramal dengan hartapun ga seberapa nominalnya, malah klu diitung2 kok aku jadi lebih pelit buat beramal daripada buat hal2 lain yang sebenernya ga penting.
2. Musti punya anak yang sholeh. Musti nikah dulu kali ya.. trus punya anak.. Ga cukup disitu, yang paling penting bisa mendidik anak biar jadi anak yang sholeh. Menurutku itu bukan hal yang mudah, aku liat dari pengalaman orang tuaku aja, gimana susahnya membimbing adekku semata wayang yang mbandel (sebenernya aku juga mbandel sih, tapi di belakang, hihi). Ya Allah, lancarkan jalanku, jalan kami untuk menyempurnakan separuh dari agama..
3. Musti punya Ilmu yang bermanfaat. Kadang aku masih menyesali diri kenapa nasib ngga menyeretku menjadi seorang dosen seperti cita-citaku dulu. Tapi aku sadar sih, setiap pilihan pasti ada konsekuensinya, ngga semua yang kita pingin bisa kita dapatkan. Aku bersyukur dengan hidupku sekarang, seenggaknya dengan belum tercapainya cita-citaku itu, aku masih punya sesuatu yang pingin aku wujudkan. Coba aja manusia ga punya cita-cita, hidup pasti ga ada gregetnya. Memang ga harus dengan menjadi guru/dosen untuk mengamalkan ilmu, tapi sungguh aku masih punya cita-cita itu. Ya Allah, bantu aku mencapainya..

Sepertinya aku belum siap mati, karena ternyata aku belum punya cukup tabungan buat hidupku di alam kubur dan alam akhirat nanti..